HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM FISIP UNEJ

Komfis HMI Jember Gitchu LOwh!!!!

PENTING!! August 13, 2008

SEHUBUNGAN DENGAN BANYAKNYA PERMINTAAN UNTUK MELAKUKAN “DINAMISASI” BLOG KOMFIS

MAKA KAMI SELAKU DIVISI TI KOMFIS AKAN MEMINDAHKAN SELURUH ISI POSTINGAN DI BLOG INI KEPADA ALAMAT YANG BARU YAITU BERALAMATKAN DI

http://komfis.blogspot.com/

Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, semoga dengan perubahan ini BLog HMI KOMFIS SEMAKIN SEMARAK DENGAN HAL-HAL BARU yang lebih Menarik.

Terima Kasih

IT Division of HMI Cabang Jember Komisariat Fisipol

 

PILGUB JATIM July 26, 2008

Filed under: News — komfis @ 1:14 pm
Tags: ,

Quick Count Jawa Timur : Akan ada putaran kedua

Berdasarkan hasil Quick Count LSI, kemungkinan besar pilkada Jatim akan berlangsung dua putaran karena tidak ada pasangan yang memperoleh suara di atas 30%. Dari data TPS yang sudah masuk ke perhitungan Quick Count LSI sudah mencapai 100%, pasangan Soekarwo – Saifulloh Yusuf 26.92% ; Khofifah Indar Parawansa – Mudjiono 25.34% ; Sutjipto – Ridwan Hisyam 21.04% ; Soenarjo – Ali Maschan Musa 18.88% dan Achmady – Suhartono 7.81%. Sementara tingkat partisipasi sebesar 61.45%

Quick count dilaksanakan dengan memilih 400 TPS yang tersebar secara proporsional di setiap kabupaten/kota yang ada di Propinsi Jawa Timur. Sample TPS dipilih dengan menggunakan metode Kombinasi Stratified-Cluster Random Sampling.

Diperkirakan toleransi kesalahan (margin of error) pada quick count ini sekitar 1% pada tingkat kepecayaan 99%. Adanya efek cluster, perbedaan jumlah pemilih dari masing-masing TPS dan variasi angka partisipasi memungkinkan tingkat error menjadi lebih besar, hingga sekitar 2%. Artinya perolehan suara kandidat dari hasil Quick Count ini bisa bergeser ke atas atau bergeser ke bawah sekitar 1-2%.

Berdasarkan UU No 12 Tahun 2008 pasal 107, pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam pilkada adalah pasangan yang mendapat suara lebih dari 50 persen dari suara sah. Jika tidak ada pasangan yang mendapat suara lebih dari 50 persen, maka pasangan yang mendapat suara lebih dari 30 persen dinyatakan sebagai pemenang. Apabila tidak ada pasangan yang mendapat suara lebih dari 30 persen, maka akan diadakan putara kedua, yang akan diikuti oleh pemenang pertama dan kedua

Hasil perhitungan cepat di atas menunjukkan bahwa tidak ada pasangan yang mendapatkan suara lebih dari 30%, dengan demikian diprediksi akan ada putaran kedua dalam Pilkada Gubernur Jawa Timur. Dan yang akan masuk ke putaran kedua adalah dua pasangan yang mendapat suara terbanyak, yaitu pasangan Soekarwo –Saifulloh Yusuf dan pasangan Khofifah Indar Parawansa – Mudjiono.

23/07/2008

 

Perkembangan Bahasa Politik Kita March 7, 2008

Filed under: News — komfis @ 4:38 pm

M Alfan Alfian Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta Kritik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahwa pemerintah sekarang seperti sedang menari poco-poco, segera ditanggapi, setidaknya oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemerintahan Megawati dulu seperti penari dansa. Baik “poco-poco” maupun “dansa”, tentu bukan genuine istilah politik, tetapi keduanya segera masuk ke dalam kamus bahasa politik. Megawati juga pernah melontarkan sindiran bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) suka “tebar pesona”. Dan, SBY sendiri pernah melontarkan kalimat “I don’t care with my popularity”.

Bagaimana perkembangan bahasa politik kita kini? Apabila dibandingkan dengan era 1950-an, tentu saja telah berkembang pesat seiring dengan perkembangan teknologi, tingkat pendidikan dan kesadaran politik masyarakat. Perkembangan budaya pop juga sangat mempengaruhi. Banyak nuansa pop yang masuk ke ranah politik. Dan itu wajar, terutama sebagai tuntutan kompetisi demokrasi langsung. Karena itulah dapat dipahami mengapa dulu SBY perlu menyanyikan lagu pop karya kelompok musik Jamrud, dan mendatangi final kontes Indonesian Idol. Dulu Presiden Abdurrahman Wahid pernah menyempatkan menonton Ketoprak Humor.
Kini, seperti acara di televisi, tokoh-tokoh dapat dikuantifikasi derajat popularitasnya. Mengecambahnya lembaga-lembaga riset dan jajak pendapat, menegaskan bahwa budaya politik langsung, eksistensi mereka perlu. Tak hanya mengukur tingkat popularitas, di antara lembaga-lembaga itu juga menawarkan konsultasi dan langkah-langkah strategis mengenjot popularitas, alias menjadi instruktur penggenjot popularitas.

Kicauan Burung
Kembali ke “poco-poco” dan “dansa”, orang Jawa mengistilahkan kritik dan jawaban atas kritik yang menggelitik itu dengan istilah “saur manuk” alias percakapan sahut-sahutan antar-burung. Ketika burung yang satu mengoceh alias berkicau, burung yang lain langsung menyahutinya. Bagi penggemar kicauan burung, maka semakin terus-menerus burung-burung berkicau, semakin bagus. Bahkan agar mau berkicau pun, seseirang harus memancingnya. Tetapi, kicauan burung itu tentu hanya akan sekedar berisik, ketika kehilangan “bobot dan substansi”.
Dulu, mantan Perdana Menteri Sjahrir mengkritik keras sikap dan kebijakan Presiden Soekarno dengan menulis misalnya pamplet “Perjuangan Kita”, sementara Mohammad Hatta menulis artikel serius di majalah Pandji Masjarakat berjudul “Demokrasi Kita”. Dari situ publik menjadi tahu akan kritik-kritik anti-fasis Sjahrir, dan argumentasi- argumentasi mengapa Demokrasi Terpimpin bukan demokrasi, sebagaimana dilontarkan Hatta. Memang kemudian Rezim Soekarno represif dalam merespons kritik lawan-lawan politiknya. Banyak di antara mereka yang dipenjarakan, sebelum kemudian dibebaskan kembal oleh Pemerintah Orde Baru.
Presiden Soekarno sendiri butuh waktu berjam-jam pidato, ketika menjelaskan mengapa partai-partai politik perlu dikubur, tatkala melihat hiruk-pikuk demokrasi parlementer dianggap kontraproduktif. Melalui media massa cetak yang dimiliki, patai-partai politik melontarkan kritik dan tradisi berpolemik berkembang luar biasa. Pandangan-pandangan kebudayaan di Bintang Timoer terbitan pihak Komunis, misalnya, tidak sejalan dengan banyak media massa cetak partai non-Komunis. Sisa tradisi berpolemik itu misalnya dapat dilihat pada awal Orde Baru, antara SM Amien dari Harian Abadi versus Redaksi Berita Yudha, mengenai perlu tidaknya ABRI terlibat dalam politik.
Bahasa politik sebagaimana yang tertuang dalam media massa partai jelas sekali: memandam maksud politik, mengupayakan “kebenaran” pendapat masing-masing. Publik dengan cepat dapat menangkap apa maunya kelompok politik yang satu dibanding yang lain. Bahasa politik yang berkembang dalam kartun-kartun politik pun masih tergolong sederhana, dan bahkan terkesan ketinggalan dari sudut kacamata bahasa kontemporer. Majalah Tempo, misalnya pernah menampilkan ulang karikatur seorang tokoh politik yang digambar layaknya “koetjing garong”. Tentu saja aspek ideologi-aliran yang kental saat itu membuat istlah-istilah yang berat-berat muncul, seperti “revolusioner” dan “kontra-revolusi” .

Pergeseran
Pada masa Orde Baru, seiring dengan arus deras depolitisasi yang disetel dari atas, maka banyak perbendaharaan kata lama yang terpinggir, kalau bukan hilang. Kata “revolusioner” berganti menjadi “pembangunan”, “Pancasila” menggantikan “politik aliran”, “demokrasi” kalah populer dari “stabilitas”. Hadir pula istilah “murni dan konsekuen”. Bahasa-bahasa yang “ideologis” bergeser menjadi “pragmatis”. Istilah-istilah seperti anti-neokolonialism e dan anti-neoimperialism e, tergeser oleh “cabe merah keriting” dan “bawang merah pipilan”. Rapat massa tergeser oleh Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa).
Kata-kata penghalusan (eufimistis) juga banyak ditemui. Menangkap dipersopan dengan “mengamankan”, menekan dan menangkap secara militer diperhalus dengan “menggebuk”. Penggusuran tidak diperkanankan, yang boleh adalah “penertiban” bahkan lebih dari itu ada “operasi esok penuh harapan”. Tentu saja kita juga banyak menjumpai istilah-istilah lain, seperti tuna wisma untuk gelandangan, dan tuna susila bagi pelacur.
Tetapi kemudian “pembangunan” tergeser oleh “reformasi”. Menu sajian bahasa politik kita di era reformasi ini tak kalah variatif, mulai dari “verifikasi”, “penyelesaian di tingkat lobi”, “amandemen” hingga “elektabilitas” . Partai-partai memang banyak, layaknya tahun 1950-an. Tetapi rasanya minus “ideologi”. Pada saat ini, jarang ditemukan polemik ideologis dibanding tahun 1950-an. Tak ada lagi artikel “Demokrasi Kita”, karena nyaris semua tokoh politik dapat diakses media pendapat-pendapatny a. Fenomena “esok dele, sore tempe” menjadi mudah terlihat dengan adanya media yang merekam pernyataan-pernyata an para politisi kita, baik yang dicap reformis sejati maupun yang tidak sejati.
Istilah “ounderbouw” muncul lagi, tapi tak lagi perlu digelisahkan oleh para aktivisnya. Organisasi-organisa si dadakan yang mengklaim dukungan politiknya ke pasangan calon presiden tetentu lazim saja. Mereka tidak perlu takut-takut untuk dicap tidak independen, karena memang maksudnya politik. Organisasi-organisa si independen pun juga rajin bcara politik, khususnya menjelang pemilu. Istilah “independen” tampaknya juga kia tergusur. Publik tidak lagi melihat sebagai sesuatu yang diwajibkan. Toh, massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) misalnya sebagian besar adalah dari jamaah Nahdlatul Ulama (NU).

Arus Pop dan Deintelektualisasi
Aspek-aspek budaya pop yang muncul ke panggung-panggung politik menyebabkan banyak pemerhati budaya memandang bahwa potongan-potongan gambar atas atraksi elite politik kita, sebagai bagian tak terpisahkan dari serial “sinetron politik”. Popularitas tokoh perlu dibantu oleh efek khusus sehingga memperkuat datangnya “momentum baik”. Kalau Lord Acton beraksioma bahwa kekuasaan cenderung korup, maka kini seolah ia telah tergusur oleh rumus baku, bahwa popularitas membutuhkan efek ketertindasan alias pendzaliman. Semakin besar efek “belas kasihan” hadir, semakin ngetop popularitasnya.
Demokrasi langsng juga meninggalkan nasihat, sebagaimana dipopulerkan oleh kalangan LSM, “ambil saja duitnya, jangan coblos orangnya”. Dulu, kalangan LSM rajin mengampanyekan anti-politisi busuk. Ibarat buah, maka pilihlah yang segar, jangan yang busuk dan banyak ulatnya. Begitupun, “politik uang” masih saja semarak. Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) telah mempopulerkan istilah, tidak saja “checks and balances” atau “trial and error” dalam banyak lontarannya tentang “terowongan gelap” reformasi, tetapi juga “gizi” sebagai sebutan halus (eufimisme) dari “suap politik”. Ditanya “gizi”-nya mana, mula-mula Cak Nur bingung. Tetapi akhirnya menjadi paham juga maksudnya, kira-kira sama dengan frase “diselesaikan secara adat”.
Apakah para politisi kita tengah mengalami deintelektualisasi, menyimak pilihan kata mereka dalam melontarkan kritik dan merespons balik? Pemimpin politik tidak harus hadir dari latar belakang intelektual, tetapi seharusnya mampu mengedepankan aspek intelektualitas dalam berpolitik. Perdebatan antar-kandidat maupun interaksi komunikasi politik antara kalangan oposisi dan yang memerintah dalam tradisi demokrasi langsung, mestinya menampakkan dimensi intelektualitas itu. Tidak cukup hanya sekedar dengan “saur manuk”. **

Sumber : KORAN TEMPO, JUMAT 8 FEBRUARI 2008

 

Intelektualitas HMI, Peran Serta Dalam Membangun Bangsa Dan Negara March 7, 2008

Filed under: News — komfis @ 4:28 pm
Atas berkah dan rahmat Allah SWT serta didasari oleh kesadaran yang sesadar-sadarnya akan keadaan (situasi dan kondisi) dan kemungkinan (maju, mundur atau stagnan) organisasi kita (Himpunan Mahasiswa Islam/HMI) yang semakin lama ternyata justru semakin menjauh dari tradisi intelektualnya, dan itu membawa dampak yang cukup serius pada segala sendi di dalam maupun di luar organisasi (spirit keIslaman/Spiritualitas, Kemahasiswaan/Akademik dan Kebangsaan/Nasionalisme), maka setelah melalui beberapa proses telaah (refleksi, evaluasi dan proyeksi), melahirkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Refleksi dan Evaluasi
o HMI berjalan hampir tanpa target yang jelas (khususnya pada wilayah ide, gagasan serta pengobjektifikasiannya dalam setiap program kerja), segala yang telah, sedang dan akan dilaksanakan masih sebatas aktifitas rutin formal saja. Masih terasa kering adanya inovasi dalam tubuh organisasi.
o Kondisi objektif dari masing-masing komisariat yang kurang seimbang (pada sisi kemunduran dirasakan hampir oleh semua komisariat yang ada, khususnya HMI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sedangkan pada sisi kemajuan hanya dirasakan oleh beberapa kader/komisariat).
o Secara deduktif, semangat berorganisasi yang muncul dari kesadaran masing-masing kader masih sangat kurang.
o Dinilai dari sisi intelektual (kwalitas), maupun banyaknya kader/jumlah (kwantitas) HMI saat ini mengalami kemunduran.

2. Proyeksi
o HMI harus kembali secara utuh kepada identitas, fungsi serta perannya. Baik pada tingkatan individu setiap kader, maupun masyarakat (organisasi, perguruan tinggi dan masyarakat bangsa dan Negara).
o HMI kembali kepada tradisi intelektualnya, sehingga eksistensi secara formal maupun non formal tetap ada dengan ide, gagasan serta peranannya yang nyata.
o Bentuk pengembalian tradisi intelektual HMI dilakukan melalui pencarian dan peng-isi-an dalam wujud kajian-kajian rutin mengenai diskursus-diskursus keIslaman dan umum.
o Pada wilayah kwantitas, HMI harus lebih serius dalam melakukan perekrutan kader. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa stategi serta metode perekrutan yang tidak statis, namun fleksibel dan dinamis dengan tetap mengindahkan nilai-nilai yang terkandung dalam AD/ART HMI.
o HMI tetap menjaga serta mempererat hubungannya dengan sesuatu di dalam/sesama kader HMI (antara anggota dengan anggota, anggota dengan alumni, alumni dengan alumni) dan di luar (Masyarakat, organisasi yang lain dan pemerintah).
o Dalam setiap periode kepengurusan di dalamnya, HMI harus mampu memperjelas target serta tujuannya, berikut beserta pengobjektifikasiannya.

Hal- hal tersebut di atas terlahir atas hasil beberapa perenungan yang sampai saat ini terakumulasi dalam wujud sebuah gagasan untuk mengembalikan ruh intelektual HMI. Melalui beberapa kajian rutin yang akan dilaksanakan, diharapkan menjadikan sebagai salah satu (untuk tidak menyebutnya satu-satunya) upaya dalam merealisasikan ide serta gagasan atas keresahan yang selama ini dirasakan bersama.

PENGURUS HMI KOORDINATOR KOMISARIAT KOMISARIAT
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
PERIODE 2007/2008

(pbhmi)

 
 

KAHMI Presidium Klarifikasi Ke PBHMI March 7, 2008

Filed under: News — komfis @ 4:25 pm
Akibat berita yang termuat di KOMPAS tanggal 20 Februari 2008 berjudul ”SOLIDARITAS HMI Dukung Kalla Jika Jadi Capres” Ketua umum PBHMI meminta KAHMI melakukan klarifikasi ikhwal bredarnya tulisan, yang konon terungkap saat wawancara seusai diterima Wapres Jusuf Kalla pada Selasa 19 Februari 2008 di Istana Wapres Jusuf Kalla.
Didalam berita Kompas itu tertulis ” Presidium Majelis Nasional KAHMI mengemukakan, solidaritas HMI akan mendukung Jusuf Kalla jika maju mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2009-2014, jika ada alumnus HMI di depan (maju mencalonkan diri sebagai presiden) HMI siap mendorong dan mendukung ujar ketua Harian Majelis nasional KAHMI Noer Sutrisno seusai diterima Wapres, selasa 19/2”

Terkait persoalan ini pada hari Rabu 20 Februari 2008, usai mendapat protes keras dari ketua umum PBHMI Fajar R Zulkarnaen dan pengurus Besar HMI, Ketua harian Presidium Majelis Nasional KAHMI Noer Sutrisno didampingi Ismet menyambangi PBHMI sore harinya untuk melakukan klarifikasi seputar berita yang termuat di Kompas tersebut. Dalam penjelasannya Noer Sutrisno memaparkan prihal isi surat resmi KAHMI presidium yang dikirim ke Redaksi Kompas tanggal 20/2. Dalam surat itu KAHMI secara gamblang menjelaskan bahwa ada kekeliruan dalam dalam pemuatan berita Kompas pada tanggal 20/2, kepada Kompas KAHMI menjelaskan bahwa yang dimaksud buka HMI, dan tetapi alumni HMI. Dan anatara alumni HMI (KAHMI) dan HMI berbeda secara organisatoris sehingga KAHMI tidak bisa mengatasnamakan HMI.

PBHMI secara institusi menerima dan mendengarkan pemaparan Ketua Harian Presidium Majelis KAHMI dan meminta agar KAHMI segera meminta Kompas meluruskan berita tersebut. HMI adalah organisasi independent dan PBHMI menjelaskan bahwa HMI tidak terjebak pada soal dukung mendukung capres, tapi HMI adalah organisasi mahasiswa yang mengedepankan kepentingan ummat dan bangsa, dan selalu berbicara pada ranah akademis. Jadi dengan adanya tulisan Kompas tersebut PBHMI merasa independensi HMI dicederai.

Saat dihubungi ketua bidang Media-Infokom PBHMI Jailani, yang juga hadir dalam pertemua dengan KAHMI dimaksud membenarkan bahwa memang ketua KAHMI Presidium secara institusi lewat Noer Sutrisno sudah mengklarifikasi prihal persoalan tulisan di Kompas itu, dan PBHMI bisa memaklumi, namun PBHMI meminta KAHMI tetap berupaya mengklarifikasi pada media yang sama.
(pbhmi)

 

Alumni dan Kader HMI Sambut Positif peluncuran HMI Mobile Services March 7, 2008

Filed under: News — komfis @ 4:24 pm
Sejak peluncuran produk HMI Mobille Serivices hingga hari ini, banyak kalangan alumni dan kader-kader HMI di daerah yang memberikan apresiasi dan sikap antusian dengan terobosan PBHMI dalam menjawab revelusi teknologi informasi dalam kancah diversifikasi media.
Trend konvergensi media nampaknya telah direspon begitu serius oleh PBHMI. Kehadiran media informasi lewat jalur sms mobille ini dirasakan sangat effektif dan memberikan keakuratan berita dan akses informasi bagi kader HMI dan alumni diseluruh indonesia.

Hingga hari ini tercatat sudah ratusan pelanggan yang berbondong-bondong mendaftarkan diri pada provider HMI mobile services. Produk ini sebenarnya oleh PBHMI dimaksudkan untuk mendukung dua media lain yang selumnya sudah eksis, yaitu website pbhmi.com dan majalah independensia. Trend media konvergens yang menawarkan pilihan media yang efektif dan efisien serta mudah diakses diseluruh indonesia menjadi sebuah alasan mengapa media ini diluncurkan.

Disamping memang dari segi finansial bagi PBHMI ini diharapkan akan menjadi sumber penghimpunan dana abadi organisasi. Dana ini tidak akan dipergunakan oleh organisasi tanpa persetujuan kongres. Diharapkan kedepan pendanaan organisasi dapat terjawab dengan solusi ini. Jadi HMI dan alumni mendapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu mendpatkan informasi akurat dan up to date serta menghidupkan organisasi lewat sumbangan dana abadi organisasi.
(pbhmi)

 

Talk Show Peringatan Hari Kartini November 20, 2007

Filed under: News, Uncategorized — komfis @ 12:19 am

Jember – Dalam rangka memperingat hari Kartini Pengurus Himpunan Mahsaiswa Islam (HMI) Cabang Jember Komisariat Fisipol mengadakan acara Talk Show (24/04/07), acara talk show ini mengambil tema “Jejak Krtini; Bagaiman Perempuan Masa kIni?. Acara yang berlagsung mulai jam 13.00-17.12 WIB berlangsung meriah danganyeng. Peserta talk show tidak hanya dihadri oleh kader komisariat fisipol saja, tetapi juga dihadiri oleh beberapa elemen mahasiswa dan aktivis keprempuanan jember. Ketua umum HMI Cabang Jember Decky Umamur Rais dalam sambutannya mengatakan “bahwa tujuan mengadakan talk show pada hari ini dalah berangkat dari keprihatinan terhadap peringatan hari Kartini yang dari tahun ketahun kehilangan makna substansialnya, peringatan hanya bersifat seremonial belaka tanpa ada efek yang bisa menimbulkan semangat untuk meneruskan perjuangan kartini” . Senada denga apa yang dikatakan oleh ketua Umum HMI Cabang jember komisariat fisipol Saudari farijah selaku Ketua panitia pun mengamininya ” yang terjadi ketika peringatan hari kartini hanyalah pengkultusan belaka, peringatan hari kartini hanyalah kesia-sian belaka, hal ini disebabkan tanpa adanya upaya untuk menggali nilai-nilai yang telah ditanamkan olh ibu Kartini pada kaum perempiuan.

Dalam acara talk show panitaia menghadirkan beberapa nara sumber diantaranya Dr. Ayu Sutarto (budayawan) Menik Chumaidah (Ketua P3A Jember). Acara yang dipandu oleh Mbk Roudatul Jannah ini dihadiri oleh sekitar 145-an peserta. yang menarik dalam acara ini peserta tidak hanya dari kaum hawa saja tapi juga banyak kaum adamnya. (Peggy,Atin, Rince)

 

Mari Uji Kemampuan Kita Dalam Menulis November 20, 2007

Filed under: News, Uncategorized — komfis @ 12:18 am

Lomba Penulisan Puisi, Cerpen, Essay Bertema “Perempuan, Pluralisme dan Perdamaian”

Pusat Partisipasi Perempuan Indonesia (P3i )mengadakan lomba penulisan puisi, cerpen, essay Bertema “Perempuan, Pluralisme dan Perdamaian”.
Masing-masing penulisan mendapatkan hadiah. Juara I uang tunai total (ketiga kategori) sebesar Rp.1.500.000,- untuk Juara II uang tunai total sebesar Rp.750.000,- dan Juara III mendapat hadiah menarik lainnya.
KRITERIA PESERTA
1. Peserta Warga Negara Indonesia (P/L)
2. Usia 15-35 tahun (cerpen dan puisi), Usia 17-45 tahun (essay)
3. Orisinal, merupakan gagasan baru/pemikiran kritis atau berdasarkan pengalaman penulis
4. Belum pernah dipublikasikan
5. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar
6. Naskah tulisan yang sudah dikirim menjadi hak panitia penyelenggara.
7. Naskah menggambarkan perjuangan kaum perempuan Indonesia mengupayakan perdamaian dalam masyarakat pluralis.
8. Peserta hanya mengirimkan 1 naskah untuk 1 kategori
SYARAT PENULISAN
ESSAY
* 8 – 20 halaman
* Spasi 1 ½
* Times New Roman 12
CERITA PENDEK
* 5 – 12 halaman,
* Spasi 1 ½
* Times New Roman 12
PUISI
· 1 – 3 halaman
· Spasi 1 ½
· Times New Roman 12
Batas akhir pengiriman (cap pos)
15 Juli 2007
Naskah dapat dikirimkan melalui :
Email : p3i_2004@yahoo.com
Pos ( print + disket)
Yayasan P3i , Jln Tegalan Klinik I – No. 64 RT 005/04, Palmeriam – Matraman, Jakarta Timur
Untuk keterangan lebih lanjut hubungi P3i :
kontak person Yani, Septa dan Elly telpon/faks. 021 85905645 atau 0811 840 788, email p3i_2004@yahoo.co.id
Panitia Penyelenggara
Yayasan Pusat Partisipasi Perempuan Indonesia(*Jh

 

WeLcoME November 20, 2007

Filed under: News — komfis @ 12:17 am

selamat datang untuk mahasiswa baru 2007 di kampus FISIP UNEJ… juga di HMI KomFis. semoga kita dapat sama2 berjuang dan berproses disini…

 

Selamat Pemimpin Baru Komfis June 18, 2007

Filed under: News — komfis @ 11:07 pm

Selamat dan sukses atas terpilihnya Azhari Evendi sebagai ketua umum HMI Komisariat Fisipol periode 2007-2008, semoga HMI kedepan memiliki masa depan yang lebih cerah dan berdidikasi tinggi bagi para kadernya. amin.

Selamat dan Sukses pula untuk para pengurus demisioner semoga partisipasi anda tidak luntur dan terus memberikan kontribusi bagi HMI kedepan.