HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM FISIP UNEJ

Komfis HMI Jember Gitchu LOwh!!!!

PENTING!! August 13, 2008

SEHUBUNGAN DENGAN BANYAKNYA PERMINTAAN UNTUK MELAKUKAN “DINAMISASI” BLOG KOMFIS

MAKA KAMI SELAKU DIVISI TI KOMFIS AKAN MEMINDAHKAN SELURUH ISI POSTINGAN DI BLOG INI KEPADA ALAMAT YANG BARU YAITU BERALAMATKAN DI

http://komfis.blogspot.com/

Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, semoga dengan perubahan ini BLog HMI KOMFIS SEMAKIN SEMARAK DENGAN HAL-HAL BARU yang lebih Menarik.

Terima Kasih

IT Division of HMI Cabang Jember Komisariat Fisipol

 

Barat Harus Hentikan Melihat Islam dari Kaca Mata Terorisme November 20, 2007

Filed under: Muslim World — komfis @ 12:20 am

Antropolog dan Ketua Studi Islam Ibnu Khaldun di American University, Washington Profesor Akbar Ahmed menyatakan, sepanjang Barat masih memandang Islam dari kaca mata terorisme, benturan antara dunia Islam dan Barat berpotensi terus terjadi.

Menurutnya, saat ini jumlah populasi bangsa Eropa mulai menurun, sementara populasi umat Islam di dunia cenderung naik. “Di pertengahan abad ini, seperempat populasi dunia akan didominasi umat Islam, ” kata Ahmed pada surat kabar Inggris Guardian, Kamis (27/6) versi online.

“Jika kasusnya seperti itu, kita tidak bisa menghentikan benturan antara dunia Islam dengan Barat. Dunia akan terus diwarnai pertikaian bernuansa agama. Kita akan menghadapi tantangan berat di abad 21 ini. Kesempatan bagi kita untuk bertahan hidup terbatas, kecuali kita mau mulai berubah dari sekarang, ” papar Ahmed yang saat ini sedang berada di Inggris untuk memberikan ceramah bagi para pemuka agama dan akademisi di Inggris, sekaligus menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Liverpol yang akan dinobatkan pada tanggal 6 Juli pekan depan.

Profesor Ahmed yang baru saja menerbitkan bukunya berjudul “Journey into Islam” mengungkapkan, dunia Islam dan Barat bisa membangun hubungan yang baik lewat pendidikan dan bukan kekerasan.

“Saya berharap apa yang saya lakukan, bisa membantu banyak orang di Barat untuk memahami budaya dengan lebih baik, khususnya di AS di mana kesalahpahaman tentang Islam makin memburuk. Sehingga kita bisa menjawab isu-isu abad 21 yang lebih nyata, seperti masalah populasi dan perubahan iklim, dan bukan masalah etnis dan kekerasan bernuansa agama, ” tukasnya.

Benturan budaya Barat dan Islam, menurut Profesor Ahmed, sudah mulai terjadi pada abad ke-19, bukan pada saat serangan 11 September dan pola itu terus terjadi sampai hari ini. Yang paling membuatnya khawatir, adalah obsesi Barat pada Islam dan kecenderungan Barat melihat Islam lewat kaca mata keamanan dan terorisme.

“Hal itu menimbulkan kewaspadaan, perlawanan dan lebih jauh lagi distorsi. Ini bukan cara yang benar dalam melihat sebuah budaya yang memiliki sejarah panjang, dengan 57 negara dan 1, 4 milyar masyarakatnya, ” imbuh Profesor Ahmed.

Ia menambahkan, “Islam akan mengalami masa yang paling kacau dan mengalami perubahan. Agresi Barat yang terus berlanjut akan mendorong lebih banyak lagi orang untuk melakukan aksi bom bunuh diri. ” Oleh sebab itu, tandas Profesor Ahmed, daripada menghabiskan uang untuk menguasai Islam, Barat sebaiknya memberikan banyak bantuan dana ke sekolah-sekolah dan untuk keperluan pendidikan.

Ditanya soal rencana pemerintah Inggris memberikan bantuan dana yang lebih besar untuk keperluan riset dan pengajaran agama Islam di universitas-universitas, Profesor Ahmed menjawab, masalah sebenarnya bukan uang, tapi bagaimana cara pemerintah Inggris melakukan pendekatan pada warga Muslim.

“Pemerintah Inggris harus melihat untuk jangka panjang. Siapa komunitas masyarakat di negeri ini yang bisa membawa perubahan, dan bagaimana pemerintah bisa bekerjasama dengan mereka untuk melakukan perubahan itu, sehingga warga Muslim tetap memiliki integritas dan bisa hidup nyaman di tengah masyarakat, ” paparnya.

Di sisi lain, Profesor Akbar Ahmed juga mengingatkan para pemuka Muslim agar memiliki kebijaksanaan, visi dan rasa kasih sayang. “Saya tidak melihat itu semua di kepemimpinan dunia Islam. Yang saya lihat, yang berkuasa dari kalangan militer dan orang yang tidak memiliki kemampuan memimpin, ” tandasnya. (ln/guardian)

 

Resolusi DK PBB Hanya Efektif untuk Dunia Islam July 1, 2007

Filed under: Muslim World — komfis @ 3:40 pm

Jakarta (ANTARA News) – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menilai, setiap resolusi yang dikeluarkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) hanya efektif berlaku bila diterapkan pada negara-negara berpenduduk sebagian besar Muslim atau dunia Islam.

“Sebaliknya, resolusi sekeras dan setegas apa pun tak akan mempan pada Israel,” kata Hasyim kepada wartawan di Kantor PBNU, Jakarta, Minggu.

Hasyim mengemukakan hal itu menyusul rencana DPR mengelar sidang paripurna yang akan meminta pertanggungjawaban pemerintah terkait dukungannya terhadap Resolusi DK PBB nomer 1747 terkait program nuklir Iran.

Menurut Presiden World Conference on Religions for Peace itu, meski di resolusi itu disebutkan larangan program nuklir bukan hanya untuk Iran, namun tidak ada yang bisa menjamin Israel bakal tunduk. PBB, juga AS dan sekutunya, tentu juga akan diam.

Artinya, kata Hasyim, resolusi itu sangat jelas arahnya, menghukum Iran.

Indonesia, karena mendukung resolusi itu, turut pula menjatuhkan hukuman tersebut.

Ia mengingatkan pemerintah bahwa sidang yang bakal digelar pada Selasa, 5 Juni mendatang itu, seharusnya dijadikan titik tolak untuk mengukur atau menilai kembali perilaku nasionalisme bangsa Indonesia dalam dimensi nasional dan internasional.

“Untuk menghindari polarisasi, jangan lagi kita bicara agama, bicara kemanusian saja sudah akan banyak yang krusial, di samping posisi Indonesia sebagai negara bebas- aktif dan pelopor Gerakan Non-Blok,” kata Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars itu.

Ia mengaku tak habis pikir tentang perilaku sebuah pemerintahan yang secara sukarela mengizinkan negara asing memasuki daerah wilayah teritori pertahanan. Demikian pula dalam bidang ekonomi.

“Bagaimana Undang Undang Penanaman Modal Asing menjadikan asing sebagai pemilik, sementara pemilik Indonesia sebagai orang asing,” katanya.(*)

 

Masa Depan Pasar Bersama Dunia Islam July 1, 2007

Filed under: Muslim World — komfis @ 3:39 pm

Oleh Abdul Aziz Setiawan

Ide untuk membangun kesepakatan perdagangan bebas multilateral (free trade agreements) di kalangan negara Islam sudah lama diserukan. Ide ini juga mengemuka lagi dalam pertemuan World Islamic Economic Forum (WIEF/Forum Ekonomi Islam Dunia) yang digelar akhir tahun lalu, dimana Perdana Menteri Pakistan, Shaukat Aziz mengajak negara Islam untuk segera membentuk pasar bersama dan mengembangkan ekonomi umat. Kerja sama tersebut tentunya diharapkan akan dapat meningkatkan perdagangan dan investasi sehingga nantinya bisa meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan di Dunia Islam.

Kita bersyukur, negara-negara anggota OKI yang bertemu dalam WIEF tersebut akhirnya sepakat membentuk pasar bersama dan akan berusaha meningkatkan kerjasama ekonomi bagi Dunia Islam, terutama untuk mengurangi kemiskinan. Kesepakatan tersebut dicapai setelah tiga hari menggelar pertemuan di Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Dalam deklarasi bersama tersebut, setiap pemerintahan negara Islam diminta memfasilitasi pertemuan perdagangan dan bisnis sebagai follow-up. Adapun rencana perdagangan bebas akan diwujudkan secara bertahap dimulai di tingkat sub-regional, regional hingga semua negara Islam menjalin perdagangan bebas. Investasi dan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, telekomunikasi dan listrik di negara Islam juga disebut dalam deklarasi bersama tersebut. Juga, kerja sama untuk pendidikan dan pelatihan bagi pengusaha Muslim dan pengusaha Muslimah serta pengembangan bidang teknologi informasi.

Ini adalah deklarasi yang menggembirakan, meski untuk menuju kearah realisasi kerjasama yang ideal masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Sebagaimana disampaikan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi yang kini juga menjabat sebagai ketua OKI, yang meminta upaya sungguh-sungguh perealisasian rencana kerja sama tersebut, �jangan hanya retorika saja. Kekhawatiran Badawi ini sangat beralasan, karena sampai saat ini negara Islam lebih suka menjalin kerja sama dengan bukan negara anggota OKI. Hal ini yang kemudian mengakibatkan performa kerjasama anggota OKI, terutama dalam bidang ekonomi menjadi buruk dan tidak menghasilkan output yang optimal untuk menghasilkan kesejahteraan bersama bagi Dunia Islam.

Potensi Melimpah dan Ironi

Umat Islam hari ini sesungguhnya memiliki potensi yang sangat besar jika mau bersatu. Dengan memiliki visi bersama dan semangat kerjasama yang tinggi diharapkan dunia Islam akan dapat menjadi kekuatan penyeimbang baru dalam percaturan ekonomi internasional, yang sekarang didominasi oleh AS, Uni Eropa, Jepang dan Cina. Umat Islam hari ini memiliki jumlah SDI sekitar 19 persen dari total penduduk dunia. Dari segi sumber daya alam, dunia Islam juga amat potensial, dimana Timur Tengah saja menguasai 66 persen cadangan minyak dunia, secara total dunia Islam menguasai 77 persen. Ini cukup untuk kebutuhan 75 tahun mendatang. Selain itu 90 persen cadangan hidro karbon dunia berada di Dunia Islam.

Sayangnya potensi yang besar ini tidak diikuti dengan kinerja ekonomi yang membaik. Dimana GDP negara Islam baru sekitar 8 persen atau 1,7 triliun dolar AS dibanding ekonomin global. Selain itu total perdagangan di negara Islam hanya 7-8 persen dari perdagangan internasional. Sementara, angka perdagangan bilateral hanya 13 persen dari total perdagangan negara Islam. Hal inilah kemudian yang juga menyebabkan berbagai persoalan ekonomi yang menjangkiti dunia Islam terutama kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan pendapatan. Kenyataan ini menunjukan fenomena ironis dan anomali yang menyimpang dari konsep pembangunan yang telah diletakan oleh pemikir ekonomi Islam terdahulu.

Sebagaimana sudah diingatkan oleh Ibnu Khaldun (w.808/1406) kekayaan sumberdaya yang melimpah cenderung memerangkap bangsa-bangsa untuk bergantung dan tidak produktif. Dalam pemikiran Ibnu Khaldun, bahwa kekayaan dan pembangunan sebuah bangsa tidak bisa hanya bergantung pada keberadaan tambang emas dan perak. (kekayaan sumberdaya). Kekayaan dan pembangunan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh aktivitas ekonomi yang mencakup keluasan jumlah dan pembagian tenaga kerja, luasnya pasar, kecukupan tunjangan dan fasilitas yang disediakan oleh negara, serta riset dan teknologi yang pada gilirannya tergantung pada investasi dari hasil tabungan atau surplus yang dihasilkan setelah memenuhi kebutuhan masyarakat. Semakin banyak aktivitas ekonomi yang dilakukan maka pendapatan negara akan semakin besar. Pendapatan yang besar akan memberikan kontribusi terhadap tingkattabungan yang lebih tinggi dan investasi yang lebih besar untuk riset dan teknologi dan dengan demikian akan ada kontribusi yang lebih besar di dalam pembangunan dan kesejahteraan sebuah bangsa.

Tantangan Menuju Pasar Bersama

Untuk membentuk pasar bersama dan meningkatkan kerjasama ekonomi bagi Dunia Islam ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kerjasama tersebut menjadi efektif dan memperkuat implementasinya.

Pertama, pembangunan kawasana dapat mulai dijalankan secara bertahap. Pembentukan kawasan bebas perdagangan bisa dirintis dari sub-sub regional seperti di Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan dan Asia Tenggara sehingga nanti akan memudahkan tahapan integrasi berikutnya. Hubungan perdagangan ini diharapkan saling menguntungkan dan mengoptimalkan keunggulan sumberdaya dan produksi masing-masing. Tentu saja keberpihakan sangat penting dalam mengutamakan produk dan jasa dari anggota pakta perdagangan ini. Surplus keuangan dan komoditas, harus dikelola secara profesional di kalangan negara Islam untuk kesejahteraan bersama, bukan hanya untuk segelintir elit penguasa dan pengusaha. Ibnu Khaldun telah pula mengingatkan tentang hal ini bahwa kekayaan tidak akan berkembang bila tabungan ditimbun dan ditumpuk oleh sekelompok elit masyarakat. Kekayaan akan tumbuh dan bertambah di saat kekayaan tersebut dihabiskan untuk kesejahteraan masyarakat, memenuhi hak-hak masyarakat, serta mengurangi penderitaan masyarakat.

Kedua, perdagangan dan investasi di dunia Islam membutuhkan keberpihakan aliran dana-dana Islam yang dimiliki investor muslim. Salah satu kenyataan hari ini menunjukan, dana-dana surplus milik investor muslim terutama dari negeri-negeri petro dolar yang besar hari ini belum mengalir ke Dunia Islam. Sebagai contoh bukti, konfirmasi negara terbanyak berinvestasi di Indonesia misalnya adalah Singapura senilai 509,4 miliar dollar AS, Perancis 224,3 miliar dollar AS, Korea Selatan (173,4 miliar dollar AS), Belanda (163,9 miliar dollar AS), Jepang (133,6 miliar dollar AS), Inggris (69,5 miliar dollar AS). Lalu dimana dana-dana Timur Tengah yang disimpan di bank Amerika yang telah ditarik keluar dari AS pasca peristiwa 9/11 lalu ? Dana yang ditarik investor Arab dari Amerika diperkirakan mencapai 1,4 triliun dolar AS (sekitar Rp 12.600 triliun). Ada khabar yang mengecewakan bahwa dana tersebut ternyata malah mengalir kewilayah Cina, Vietnam dan Korea sebagai pusat pertumbuhan ekonomi

baru.

Ketiga, untuk mendukung pasar bersama ini tentunya dibutuhkan mata uang bersama. Negara anggota OKI sudah saatnya menggunakan mata uang bersama dalam bentuk dinar emas. Ini seperti yang dilakukan negara-negara Eropa dengan Euro-nya. Seharusnya negara-negara OKI bisa mewujudkan hal itu, negara-negara Eropa yang ratusan tahun saling berperang saja bisa mewujudkan hal ini, apalagi dunia Islam yang banyak memiliki kesamaan. Tiap-tiap negara OKI bisa memiliki mata uang dinar sendiri, misal dinar Saudi, dinar Iran, dan dinar Indonesia yang nilainya sama dan berlaku di seluruh dunia. Dengan konversi dari ketergantungan dolar AS ke dinar emas akan mengurangi kebutuhan akan dolar AS sehingga bisa mengamankan nilai tukar mata uang negara-negara OKI. Selama ini salah satu penyebab keterpurukan ekonomi Dunia Islam juga diakibatkan melemahnya nilai tukar mata uang masing-masing terhadap dolar AS karena permintaan dolar yang makin tinggi. Dalam sistem ekonomi global ini, siapa yang bisa menguasai mata uang dialah yang akan menguasai ekonomi. Akhirnya penguasa ekonomi adalah juga penguasa dunia, inilah yang dilakukan Amerika saat ini dengan menjadikan dan menguasai dolar sebagai mata uang dunia.

Berikutnya, yang keempat dunia Islam perlu segera membangun sistem keuangan Islam yang terintegrasi. Baik perbankan, pasar modal dan institusi keuangan syariah lainnya. Kita membutuhkan penguatan pendanaan dan peran Islamic Development Bank (IDB), sebagai World Bank-nya Dunia Islam. Selain itu kita juga membutuhkan Dana Moneter Islam Internasional (semacam IMF), yang skema pembiayaanya bebas bunga. Dengan demikian integrasi sistem perekonomian akan semakin kokoh.

Selanjutnya yang kelima dan sangat mendesak, Dunia Islam harus mampu keluar dari perangkap konsep negara bangsa (nation state). Batas-batas nation state selama ini telah memisah-misahkan dunia Islam semakin jauh dari kerbersamaan dan medorong egoisme yang tinggi bagi kepentingan masing-masing negara. Selain itu kebanyakan negara-negara Islam juga masih menghadapi permasalahan konflik kepentingan masing-masing elit penguasa untuk menangguk keuntungan dan keberlanjutan kekuasaan di negara masing-masing. Sehingga mengakibatkan terlantarnya agenda-agenda pengingkatan pembangunan Dunia Islam dan peningkatan kesejahteraan umat secara keseluruhan. Apabila tantangan tersebut bisa dilalui, Insya Allah pasar bersama Dunia Islam akan lebih efektif dan membawa kemaslahatan bagi umat, dan lebih penting lagi tidak sekedar menjadi retorika. Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

MEMOTRET KEHIDUPAN MUSLIM AMERIKA July 1, 2007

Filed under: Muslim World — komfis @ 3:32 pm

Pengantar: Tokoh muda Muhammadiyah, Muhammad Hariman Bahtiar, berada di AS untuk mengikuti Community Leaders Program (CLP 2007) selama tiga minggu dari tanggal 6 s/d 26 Mei 2007. CLP merupakan pelatihan yang menfokuskan pada tema leadership, demokrasi, pendidikan, hak-hak sipil, toleransi dan budaya.

Program ini diikuti oleh 15 orang perwakilan dari Indonesia. Program tersebut diselenggarakan oleh Heartland International, sebuah lembaga yang berpusat di Chicago, AS dan Center for Civic Education (Perwakilan Indonesia) atas dukungan Departemen Luar Negeri AS. Berikut ini oleh-olehnya untuk Anda.

American Muslims reject extremes, demikian judul besar yang terpampang di halaman pertama suratkabar USA Today, edisi 23 Mei 2007 lalu, saat penulis tiba di Washington DC. Tulisan tersebut merupakan publikasi hasil survey yang dilakukan oleh The Pew Research Center terhadap komunitas Muslim di AS. Sebelumnya, saat penulis di Atlanta, Georgia AS, survey ini juga menjadi perbincangan hangat di TV.

Memotret kehidupan Muslim di AS, tentu menjadi salahsatu agenda penulis saat mengikuti program tersebut. Tidak ada catatan yang pasti memang tentang jumlah populasi Muslim di AS. Tapi dalam survey di atas diperkirakan dari sekitar 2,4 juta Muslim AS, mereka umumnya adalah menjadi bagian masyarakat kelas menengah. Bahkan menurut Ibrahim Hooper, Direktur Komunikasi The Council on American-Islamic Relations (CAIR), umat Islam AS dapat berintegasi secara baik dengan masyarakat AS lainnya. Mayoritas Muslim AS juga menolak terorisme dan ekstrimisme yang menggunakan simbol-simbol agama, ujarnya.

Yang menarik, dalam survey itu mengatakan bahwa Muslim AS cukup puas dengan negara AS (38 persen). Angka itu lebih tinggi dibanding suara publik AS pada umumnya yang hanya 32 persen. Survey ini juga menunjukkan 47 persen Muslim AS menyatakan jatidiri pertama sebagai Muslim dan kedua baru sebagai warga AS. Sebagian Muslim AS nyaman dengan gaya hidup AS dan mereka tidak melihat ada pertentangan antara menjadi muslim yang taat dan hidup di masyarakat modern, kata Luis Lugo, Direktur The Pew Forum on Religion & Public Life.

Survey ini tentu menarik perhatian karena sebelumnya dalam berbagai pemberitaan di media, kehidupan Muslim AS makin tidak menentu pasca serangan 11 September. Dalam pamflet yang dikeluarkan oleh The Council of Islamic Organizations of Greater Chicago (CIOGC), lebih dari 500 ribu Muslim diinterview oleh FBI. 144.513 di sidik jari di bawah registrasi khusus, sekitar 28 ribu ditahan dan 17 ribu di deportasi. Bahkan gaji pekerja Muslim turun 10 persen akibat kebijakan yang berbau Islamophobia. Dewan AS untuk Hubungan Islam-AS (CAIR) juga mempublikasikan berbagai diskriminasi yang di alami Muslim di AS. Pada laporan tahunannya, CAIR mencatat perlakuan diskriminasi terhadap Muslim AS selama 2006 meningkat 26 persen.

Dari sekitar 2.467 insiden yang dilaporkan diantaranya adalah kasus kekerasan, prasangka buruk, serta bentuk pelecehan lainnya. Organisasi advokasi hak-hak sipil yang bermarkas di Washington DC itu juga mencontohkan seorang warga Muslim harus menunggu lima tahun setelah lulus dari ujian kewarganegaraan pada 2002 sebelum akhirnya diberi kewarganegaraan AS belum lama ini. CAIR juga mencatat 167 laporan kejahatan yang didasarkan pada sikap anti-Muslim pada tahun 2006 atau meningkat 9,2 persen dibandingkan tahun 2005. Kasus-kasus diatas menurut laporan itu sebagian besar terjadi di Negara Bagian California, Illinois, New Jersey, New York dan Distrik Washington.

Survey yang dilakukan The Pew Research Center sebelumnya juga menunjukkan 53 persen Muslim yang tinggal di AS menyakini hidup mereka lebih sulit setelah kejadian 11 September. Mereka berada di bawah pengawasan ketat dan menjadi sasaran prasangka buruk. Sebagai kelompok minoritas di AS, pengalaman komunitas Muslim di AS setelah kejadian WTC 2001 itu dipandang banyak orang sebagai bagian berikutnya dari sejarah hak-hak sipil AS, kata Arsalan Iftikhar, Direktur Hukum CAIR yang menulis penelitian mengenai kasus-kasus diskriminasi itu.

Hasil-hasil penelitian di atas tidak jauh berbeda dari pengamatan lapangan yang penulis lakukan selama kunjungan ke hampir sembilan kota di AS. Saat di Chicago misalnya, penulis berkesempatan Shalat Jumat di Islamic Center di pusat kota Chicago dan bertemu komunitas Muslim di sana. Islamic Center itu berada di pusat perkantoran di South State Street Chicago, sedang masjidnya sendiri berada di lantai lima gedung tersebut. Sedangkan di Washington DC, Islamic Center berada satu jalan dengan Kedutaan Besar RI di Massachussetts Avenue (www.islamiccenterdc.com). Dan memang benar, Muslim AS berasal dari hampir 68 negara. Tak heran jika akhirnya penulis bertemu Muslim AS dengan penampilan, warna kulit, dan karakter yang berbeda.

Umumnya mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun hidup bahagia di AS. Tapi mereka juga cukup terganggu dengan isu perang melawan teror serta dampak peran AS dalam Perang Irak serta di daerah konflik lainnya. Di daerah pinggiran Chicago, penulis berkesempatan berkunjung ke Universal School. Sekolah ini merupakan sekolah Islam swasta yang didirikan sejak tahun 1989 oleh komunitas Muslim disana. Dilengkapi masjid serta sarana penunjang pendidikan lainnya. Sekolah ini mengalami perkembangan yang pesat, kata Ibu Farhat Siddiqui yang menjabat sebagai Kepala Sekolah.

Di samping prestasi secara akademik, sekolah ini juga mempelopori turnamen olahraga untuk putri dengan aturan memakai pakaian Muslim, serta menjadi anggota klub bola basket yang terkenal (IHSA). Sekolah ini juga menerbitkan surat kabar sekolah tiga kali setahun dan memiliki situs di internet dengan alamat www.universalschool.org. Melihat perkembangan di atas, tentu kita berharap komunitas Muslim di AS akan terus tumbuh dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Menurut hemat penulis, kita juga tampaknya harus banyak menjalin komunikasi dan kerja sama untuk proyek-proyek bersama, khususnya dalam peningkatan kualitas hidup antara komunitas Muslim di kedua negara. ( )