HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM FISIP UNEJ

Komfis HMI Jember Gitchu LOwh!!!!

MEMAKNAI KEBANGKITAN, MEMAKNAI BANGSA June 8, 2008

Filed under: opini — komfis @ 10:13 am

By: Dida S. T. *)

20 Mei 1908, Soetomo, pemuda kelahiran Nganjuk , Jawa Timur mampu membawa negeri Indonesia yang telah dirasuki kolonialisme dan imperialisme oleh Belanda selama tiga abad lebih, menuju era baru. Pada tanggal itulah untuk pertama kalinya organisasi kepemudaan muncul di Indonesia, organisasi itu bernama Boedi Oetomo. Era baru dimana semangat pemuda kala itu mulai bermunculan di hampir seluruh penjuru negeri. Hingga akhirnya pada tanggal 28 Februari 1928, pemuda-pemudi Indonesia dengan bangga mengatakan berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu INDONESIA, yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Saat itu jelas hal utama yang ada di benak pemuda Indonesia adalah bangkit dari keterpurukan , guna melawan imperialisme. Semangat mereka benar-benar menggugah rasa kebangsaan, bahwa mereka cinta dan bangga memiliki tanah air ini.

Bangsa Indonesia telah banyak melahirkan generasi-generasi emasnya, dalam kurun waktu hampir 63 tahun merdeka. Mulai dari semangat Dr. Soetomo yang telah berani untuk mendirikan sebuah organisasi pemuda. Siapa tak kenal Soekarno, seorang yang dengan berani membuat keputusan merdeka dari masa penjajahan, jangan lupakan juga pemuda-pemuda yang berhasil mendesak Soekarno untuk segera membuat keputusan merdeka. Tahun 1974, seluruh perhatian Indonesia terperangah, menyaksikan pengorbanan mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia yang telah berani untuk menentang otoriterisme yang dilakukan pemerintah orde baru, yang kemudian kita kenal dengan insiden MALARI. Dan yang terakhir kita harus berterima kasih pada generasi 98, yang mendengung-dengunkan revolusi dalam pemerintahan Indonesia, dan mampu menjatuhkan Rezim Soeharto yang telah 32 tahun berkuasa. Reformasi 1998, telah mengubah Indonesia secara total di berbagai bidang, dalam hal ini negara kita tumbuh sebagai negara yang mengutamakan demokrasi.

Kini apa yang bisa kita perbuat setelah melalui 10 tahun reformasi? Apakah kita tidak ingin menjadi bagian generasi emas bangsa ini? Paling tidak kita harus mampu bertindak , seperti yang dikatakan J.F Kennedy, ”jangan kau berpikir apa yang telah negara berikan kepadamu, tapi berpikirlah apa yang telah kamu berikan bagi negaramu” Pernyataan yang perlu kita kaji kembali , sudahkah kita berbuat sesuatu bagi bangsa ini? Atau apakah kita hanya bisa menjadi anak gawang, menunggu bola keluar lantas mengembalikan bola kembali kepada pemain? Kita perlu berpikir cerdas dalam perkembangan negara saat ini. Banyak kita lihat di berbagai daerah banyak mahasiswa menggelar aksi, berdemonstrasi, berteriak, bahkan ada yang bertindak anarkis. Mengapa bisa sampai terjadi tindakan – tindakan anarkis yang dilakukan para mahasiswa? Mengatakan membela masyarakat, tetapi masyarakat malah dibikin resah oleh aksi itu. Peristiwa di UNAS beberapa hari lalu menjadi bukti sekaligus cerminan, apa sudah benar mahasiswa bertindak seperti itu? Memang semua dibuat pusing dengan naiknya harga BBM, memang mayoritas memprotes keputusan pemerintah tersebut, tapi sudah benarkah caranya? Negara kita terlalu demokratis! Demokratis Indonesia adalah anarkis. Kita semua lupa bahwa kita ini satu bangsa! Demonstrasi mahasiswa yang anarkis, konflik antar kelompok, konflik kepentingan bisa dijadikan gambaran bahwa kita semua lupa bahwa kita bersaudara. Satu saudara dalam wadah Indonesia. Memang realis, menekankan tidak ada kawan dan lawan yang abadi, tapi apakah kita sudah tidak peduli lagi dengan kehidupan bangsa ini?

Generasi-generasi emas bangsa ini telah menunjukan, bahwa mereka mampu bersatu dalam kehidupan bernegara. Mereka mampu bangkit bersama mewakili masyarakat Indonesia. Mereka mampu bangkit untuk melakukan perubahan, mereka tidak mau menjadi benalu yang hanya tergantung pada orang lain. Seperti ucapan Dedy Mizwar, dalam menghayati kebangkitan bangsa, “bangkit itu mencuri perhatian dengan prestasi, bangkit itu malu menjadi benalu” Generasi emas tersebut melakukan perubahan dengan semangat persatuan, memiliki dasar yang jelas, tidak seperti masyarakat sekarang yang tampaknya menjadi benalu karena mudah terprovokasi orang lain. Dengan perubahan mereka mampu membuktikan adanya kehidupan berbangsa, seperti yang diutarakan Evelyn Waugh “perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan” Kini banyak masyarakat Indonesia hanya berani berteriak, tanpa melakukan suatu bentuk konkret. Asal berani pamer otot saja, tanpa adanya suatu bentuk perubahan yang di inginkan, asal puas bisa mengalahkan kelompok lain, semuanya sudah dianggap cukup. Semua memiliki konsep – konsep sendiri. Padahal seharusnya kita harus subversif terhadap semua teks yang di konstruk oleh lingkungan, bukan menerima secara dogmatis.

100 tahun Indonesia Bangkit, tapi nampaknya belum benar-benar bangkit. Analoginya, Indonesia ini masih belum siuman karena terlalu pusing memikirkan konflik. Rakyat yang hidup dibawah kibaran merah putih saja, masih belum bisa bersatu, bagaimana menghadapi persaingan dunia luar. Kita perlu memaknai rasa kebangsaan yang ada. Dengan memaknai, kebangsaan kita bisa menjadi bagian dari bangsa ini. Bahkan kita bisa menjadi sejarah dalam perjalanan bangsa ini. Kita perlu menumbuhkan rasa cinta memiliki bangsa ini, intinya bangsa ini harus kita perjuangkan. Jika melihat aksi mahasiswa akhir-akhir ini, kita perlu berpikir secara matang. Seharusnya mahasiswa adalah akademik yang terdidik, wakil masyarakat yang mampu bertindak secara cantik. Dalam artian, hilangkan cara-cara anarkis dalam bertindak. Maka dari itu rasa kebangsaan harus dimiliki oleh seluruh elemen mahasiswa. Elemen mahasiswa semestinya sadar bahwa bersatu adalah kunci keberhasilan untuk memaknai kebangsaan. Aksi pemblokiran, aksi saling lempar dengan aparat, saling ejek, bahkan tawuran antar mahasiswa masih sering kita saksikan di layar kaca. Lihat efek dari pemblokiran jalan, aktifitas masyarakat terganggu. Atau aksi saling lempar, tawuran, kalau sudah begitu jadinya bermain air basah bermain api hangus, sama-sama rugi kan? Berpikir dewasa, tentang siapa yang dirugikan dengan aksi-aksi anarkis. Sama-sama orang Indonesia yang rugi bung! Mau hidup sendiri di negara yang luas ini? Toh, biar bagaimanapun, mahasiswa masih punya alasan, aksi mereka untuk membela rakyat. Lantas kalau sudah begini, siapa yang di salahkan?

Persempit perbedaan, perluas persamaan

Elemen selain mahasiswa, juga harus bisa menjadi bagian bangsa ini. Kalau ingin bangkit, harus bersatu. Lihat saja, alangkah eloknya rasa persatuan masyarakat luas ketika timnas Indonesia bertanding, tidak ada Jakmania, Bonekmania, Aremania, Viking, dan lain-lain. Yang ada hanya satu Indonesia. Pun demikian ketika kita mendukung srikandi-srikandi bulutangkis Indonesia bertanding, teriakan-teriakan Indonesia, Indonesia, Indonesia…….,begitu emosional. Kita tentu terharu, dapat bersatu untuk mendukung Indonesia. Lantas, kenapa kita tidak mengaplikasikan semangat persatuan tersebut dalam kehidupan bermasyarakat? Perlu adanya jiwa yang ksatria, agar kita semua mampu untuk bersatu. Jiwa ksatria untuk melupakan kepentingan agama, kelompok, dan etnis. Jiwa ksatria memiliki kesadaran untuk kepentingan bangsa. Jika itu semua mampu dilakukan, bukan tidak mungkin bangsa ini melahirkan generasi-generasi emas lagi. Tentunya para pendahulu kita akan tersenyum, bahwa apa yang telah mereka lakukan tidak akan sia-sia, karena kita semua akan bangkit dan mampu memaknai kebangkitan tersebut dengan benar.

Terlepas dari semua elemen yang ada di negara ini, yang utama adalah untuk kebangkitan bangsa ini. Bangsa kita memerlukan orang-orang yang sepenuh hati menjunjung semangat persatuan. Yang sama – sama cinta terhadap Indonesia. Dengan mencintai bangsa ini, kita melakukan hal mendasar untuk melakukan perubahan dalam kemajuan bangsa Indonesia.

“Bangkit itu mencuri. Mencuri perhatian dunia akan prestasi. Bangkit itu malu. Malu bila jadi benalu” Ungkapan Dedy Mizwar tersebut bila dicermati lebih dalam tersirat banyak makna. Sudah seabad Indonesia terbelenggu. Terbelenggu dari kebodohan, kemiskinan, dan keterkungkungan ekonomi. Sudah seratus tahun Indonesia belum bisa menjadi bangsa mandiri. Ketergantungan ekonomi terus saja terjadi. Justru permusuhan dan pertikaian yang semakin menjadi. Kalau ingin bangkit, maka Indonesia harus bersatu. Persempit perbedaan, perluas persamaan. Perbedaan hanya akan membuat masalah menjadi rumit. Tidak akan pernah ada jalan keluar untuk maju jika kita terus bertikai antar sesama warga negara.

Apakah kita mau terus-terusan seperti ini? Mengapa kita tidak bergandengan tangan menyatukan tekad dengan semangat persatuan? Pikirkan perkataan Kennedy, apa yang kita berikan buat bangsa ini? Tidak akan pernah ada yang bisa kita perbuat jika masih timbul percekcokan antara kita. Provokasi dan adu domba akan membabi buta di penjuru negeri, jika kita tidak segera sadar. Kita seakan lupa semangat sumpah pemuda, tidak ada saat ini rasa untuk memiliki tanah air. Kita harus ikhlas, kalau kita ini mempunyai persamaan. Ikhlas bukan karena keterpaksaan, tetapi karena kesadaran.Para pahlawan telah mencontohkan pada kita gambaran bersatu. Meski hanya dengan sebilah bambu yang runcing, tapi mereka memiliki rasa semangat juang untuk mengusir penjajah hina.

Saat ini memang Indonesia tidak sedang dijajah negara lain atau tidak sedang dalam masa perang perjuangan seperti dulu. Tetapi sadar ataupun tidak, kita harus sadar bahwa musuh utama Indonesia saat ini ada di dalam. Tidak ada rasa cinta akan tanah air, tidak ada rasa bersatu, atau jangan-jangan kita menunggu berperang melawan Negara lain untuk bersatu. Ada atau tidak penjajah, kita harus bersatu! Kita harus memiliki satu kesamaan, sama-sama orang Indonesia.

Sukses tak bisa diraih dengan perbedaan

Dr.Soetomo telah membuktikan, bahwa kelompok mampu meraih kesuksesan dalam melakukan perubahan. Tidak ada masalah perbedaan agama, perbedaan suku dan etnis dalam tubuh Boedi Oetomo. Mereka melupakan semua itu, karena yang ada di benak mereka hanya berjuang untuk Indonesia. Mereka mampu bersatu, ibarat sapu lidi yang dipergunakan menebas debu yang ada di kasur, mereka mampu menebas debu kolonialisme Belanda yang ada di bumi Indonesia.

Maka dari itu, kenapa kita tidak menjadi penerus Boedi Oetomo? Sukses tak akan diraih jika kita masih bersikap primitif dengan mementingkan kepentingan kelompok. Apakah kita akan senang melihat saudara sebangsa kita dalam kondisi bersedih? Renungkan, dan jadikan suatu pelajaran bagi kita untuk memaknai kebangkitan bangsa. Tanpa saudara sebangsa dan setanah air, kita tidak akan pernah untuk maju.

Sekali lagi perlu adanya jiwa ksatria kita. Hilangkan ego kelompok agama, ras dan etnis. Sadar diri bahwa kita orang Indonesia. Mari kita bangkit, mari kita bersatu, lupakan perbedaan, jadikan momentum seabad kebangkitan kita sebagai awal untuk membuktikan bahwa kita pantas menjadi bagian bangsa ini. Bahwa kita pantas menciptakan sejarah penting dalam perjalanan Indonesia. Tak ada kesuksesan yang diraih sendiri, kesuksesan bangsa bisa ada kalau persatuan dapat diciptakan dibumi pertiwi ini. Dengan rasa persatuan kita dapat memaknai kebangkitan dan memaknai kebangsaan. Seperti slogan presiden dalam menyambut seabad kebangkitan bangsa”Indonesia Bisa”. Yakin, usaha, dan akhirnya sampai kita berani berteriak lantang bahwa kita memang bisa membawa Indonesia menuju perubahan.

*) Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional ‘07

 

REFLEKSI 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL : June 8, 2008

Filed under: Creativity — komfis @ 10:12 am

Kemanakah Indonesia akan melangkah???

Oleh : Ps Reza *)

Pada tanggal 20 Mei 2008 silam, seluruh elemen dalam bangsa ini larut dalam kegembiraan menyambut datangnya Hari Kebangkitan Nasional yang genap berumur 100 tahun. Sebuah pencapaian yang fantastis bagi suatu Negara bernama Indonesia. Apalagi sebelum itu, Indonesia mendapatkan kebanggaan menjadi tuan rumah perhelatan bergengsi Thomas – Uber, dimana Indonesia mencanangkan untuk merebutnya kembali dari Cina yang telah terlalu lama “mengambilnya” Suatu moment yang tepat untuk memberikan hadiah bagi bangsa yang akan merayakan suatu hajatan besar, walaupun pada akhirnya gagal dalam usahanya untuk menggoyahkan hegemoni China, event itu tetaplah dapat dianggap sebagai penyemarak dalam penyambutan Hari Kebangkitan Nasional. Maka tidaklah mengherankan, jika banyak terdapat pengharapan dan ekspektasi didalamnya, agar dapat disinergikan untuk menuju kearah Indonesia yang lebih baik .

Semua pasti telah mengetahui dasar pijakan pencanangan Hari Kebangkitan Nasional adalah hari lahirnya sebuah organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 silam. Organisasi yang lahir karena himpitan ketidakadilan dan ketidakberdayaan bangsa ini menghadapi masa Kolonial Belanda. Apakah setelah 100 tahun, bangsa ini telah berhasil melepaskan diri dari kungkungan ketidakadilan dan ketidakberdayaan seperti yang terjadi kala itu. Dengan sangat berat hati, penulis menjawab BELUM, dengan huruf besar semua yang menandakan bahwa bangsa ini belum lepas bahkan kalau boleh saya mengatakan bangsa ini masih terjajah dalam bentuk kolonial baru yang jamak disebut neo – kolonialisme yaitu dalam penjajahan ekonomi. Berikut ini adalah pencapaian buruk bangsa ini selama 100 tahun Kebangkitan Nasional. Tanpa mengesampingkan pencapaian positifnya, penulis ingin agar pencapaian buruk tersebut dapat dijadikan refleksi sehingga tidak terulang kembali nantinya

Negara ini memiliki semua syarat untuk menjadi bangsa yang besar . pertama mungkin letak yang sangat strategis diantara lintasan percaturan ekonomi dunia, kedua memiliki jumlah penduduk yang mencapai 230 juta jiwa yang mana kebanyakan termasuk dalam usia produktif dan menahbiskan diri sebagai sebagai negara kelima dalam hal kepadatan penduduk. Dari situ dapat kita lihat besarnya angkatan kerja yang dapat diorganisir untuk terus melakukan pembangunan. Dan yang terakhir mungkin Sumber Daya Alam yang kita miliki baik didarat maupun dilaut. Tambang apa yang tidak kita miliki, emas , minyak bumi, gas alam, batu bara, nikel, aspal,dll. Negara – negara lain didunia ini pasti akan iri jika melihat berapa banyak hasil alam yang diberikan oleh Allah SWT bagi negara yang sangat kita cintai. Dengan beberapa potensi yang saya sebutkan diatas tentu tidaklah naïf jika saya menyebut bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya. Tetapi setelah 100 tahun kebangkitan nasional, keadaan bangsa ini sungguh menyayat hati, Indonesia menjadi bangsa yang jauh dari saya harapkan, negara yang seharusnya sejajar dengan negara – negara maju, malah terperosok dalam jajaran negara berkembang ( kalau boleh saya katakan kumpulan negara miskin ). Indonesia hanya disejajarkan dengan negara seperti Filipina, Vietnam, Laos, dan beberapa negara lain dibelahan Afrika. Malaysia yang dulu belajar segalanya dari kita, kini telah jauh berlari. Sedangkan kita masih tetap berada ditempat kita memulai. Perilaku KKN yang sangat kronis, birokrasi yang berbelit – belit hingga iklim investasi yang tidak kondusif. Illegal Logging dan fishing tetap saja terjadi, penimbunan dan penjarahan semakin marak. Penduduknya semakin banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan. Seakan – akan ada jurang pemisah yang menganga yang membedakan keduanya. Diberbagai bidang Indonesia mengalami kemunduran. Belum lagi banyaknya bencana alam yang seakan-akan tidak mau lepas dari bangsa ini. Sedemikan complicated – nya permasalahan yang mendera bangsa ini. Inilah beberapa pencapaian buruk kita selama 100 tahun ini. Bagaimanakah hal sedemikian ini terjadi pada bangsa sebesar Indonesia? Jawabannya adalah kesalahan yang sangat berat dalam mengurus bangsa ini. Apakah Indonesiaku akan kembali disegani seperti pada zaman Pak Karno, apakah pembangunan kembali dapat berjalan lancar seperti pada zaman Pak Harto. Tentu bisa jika kita mau berusaha dan berani melakukan perubahan yang radikal.

Sehubungan dengan naiknya kembali harga BBM, penulis membatasi lingkup analisis hanya dalam masalah pertambangan kita saja, yang memang membutuhkan perhatian lebih mendalam. Dibidang pertambangan, kita memiliki segala SDA yang ada. Tetapi seperti kita ketahui dengan pasti, bahwa bukan kitalah yang memegang kendali. Seakan – akan kita adalah penonton yang hanya bisa melihat pertunjukan para perusahaan asing itu mengeruk sumber daya alam kita. Dengan alasan keterbatasan dana dan peralatan untuk pengeksplorasian, pada tahun 1975 Pak Harto memberlakukan UU Penanaman Modal Asing, dimana memperbolehkan pihak asing ikut serta dalam pengolahan SDA. Sejak itulah PT Freeport, Exxon Mobil, Shell dan MNC – MNC lainnya berbondong – bondong masuk ke Indonesia. Dan sejak itu pulalah kita kehilangan kedaulatan mengolah sumber – sumber alam untuk kepentingan dan kemakmuran masyarakat. Mereka membagi – bagi wilayah pertambangan seakan – akan semua itu adalah milik mereka, menunggu untuk dieksplorasi. Kenapa saya mengatakan mengeruk bukan mengeksplorasi, karena system bagi hasil yang mereka berikan sangatlah sedikit bahkan dapat dikatakan hampir tidak ada sama sekali. Kita ambil contoh pertambangan di Tembagapura, yang mana kita ketahui PT Freeport sebagai operatornya. Dalam kontrak karya tersebut system bagi hasil yang mereka berikan sangat kecil dan berlaku sangat panjang (hampir 30 tahun) dan tidak mempedulikan adanya perubahan pada harga emas dan tembaga dunia. Selain itu mereka diperbolehkan untuk memperpanjang kontrak karya tersebut secara berkelanjutan. Bukankah itu sangat konyol, kitalah pemilik SDA ini, tetapi merekalah decision maker – nya. Selain itu, dari dulu hingga sekarang bagian yang diterima bangsa ini tetap sama padahal harga emas sangat tinggi pada pasaran dunia. Ketika kontrak karya tersebut sudah habis, pemerintahan SBY ketika itu berusaha menaikkan bagi hasilnya, tetapi seperti telah dapat kita pastikan hasilnya adalah NOL besar, bahkan PT Freeport mengancam balik dengan mengatakan akan membawa masalah ini ke Arbitrase Internasional. Contoh lainnya adalah Blok Cepu dimana operatornya adalah PT Exxon Mobile. Bagi hasilnya sudah lumayan bagus yaitu 45% buat Exxon dan 45% buat pemerintah dan sisanya masing – masing 5% buat pemda. Yang saya sesalkan disini adalah ketidakpercayaan pemerintah pada perusahaan dalam negeri dimana dalam hal ini Pertamina sudah menyatakan kesanggupannya sebagai operator Blok Cepu, tetapi pemerintah melalui Men ESDM Purnomo Yusgiantoro lebih memilih PT Exxon sebagai operator. Yang lebih lucu adalah Blok Natuna yang mengandung cadangan migas yang besar, bangsa ini hanya diberikan bagi hasil 0%. Dengan alasan komposisi CO2 serta tingkat kesulitan yang tinggi untuk pengeksplorasiannya, mereka membuat system bagi hasil seperti itu dan dapat ditebak pemerintahpun legowo menerimanya. Asalkan Blok tersebut segera dieksplorasi, selesailah permasalahan. Belum lagi kekonyolan – kekonyolan lainnya, seperti kita menghasilkan minyak mentah, yang kita ekspor dengan harga sangat murah, tetapi kita harus membeli dengan sangat mahal ketika minyak tersebut sudah diolah. Itukan sangat konyol, minyak dihasilkan oleh negara kita tetapi kita harus membelinya lagi dengan harga yang mahal. Alasan lama, tentang ketiadaan alat – alat dan keterbatasan SDM kembali digunakan pemerintah. Selama 63 tahun kemerdekaan bangsa ini, apa saja yang telah dilakukan pemerintah. Apakah kita akan terus menyerahkan sumber daya alam kita ini pada pihak asing. Pertanyaan besar yang mungkin juga ada dalam benak saudara sekalian? Seharusnya kita menikmati windfall profit atas kenaikan harga minyak bumi sekarang ini, yang menembus 135$ / barrel seperti negara – negara OPEC lainnya. Tetapi yang terjadi adalah kepanikan bahwa APBN akan segera jebol karena tingginya subsidi BBM yang diberikan. Hampir seperempat dari APBN kita digunakan untuk subsidi tersebut (250 triliun dari APBN kita yang sekitar 1000 triliun itu). Keputusan akhir yang dinilai rasional adalah menaikkan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi. Diakhir kata jangan heran jika hal itu yang terjadi karena bukan kitalah penentu kebijakan, tetapi pihak asing yang jelas – jelas tidak akan pernah membela kepentingan negara ini.

Tetapi janganlah kita pesimis dalam membantu pembangunan bangsa ini. Kita harus menjadikan 100 tahun Kebangkitan Nasional sebagai tolak ukur menuju bangsa Indonesia yang lebih baik. Kita perlu memberikan perhatian lebih pada kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Dengan cara memberikan pendidikan dan kesehatan murah yang dananya berasal dari penyitaan harta para koruptor, spekulan, pelaku illegal logging dan fishing yang kerap kali merusak bangsa ini. Karena dengan pendidikan dan kesehatan murahlah, akan tumbuh para generasi unggul yang dapat mengangkat bangsa ini. Kita serahkan harga BBM sesuai dengan harga pasar dunia sehingga kita tidak perlu dipusingkan dengan kenaikan minyak dunia dan berapa subsidi yang perlu kita keluarkan. Sekadar informasi, setiap kenaikan 1 $ / barrel, bangsa ini harus mengeluarkan 30 triliun hanya untuk subsidi. Padahal asumsi harga minyak Indonesia (ICP) hanya 105 $ / barrel. Bandingkan dengan harga minyak dunia saat ini yang melesat mencapai 135 $ / barrel. Seberapa besarkah selisihnya, itulah besaran subsidi yang harus dikeluarkan Indonesia. Dengan menyerahkan harga minyak mengikuti harga dunia, secara otomatis kita akan mendapatkan windfall profit yang signifikan jika terjadi kenaikan harga BBM dunia. Uang tersebut digunakan membiayai sektor UKM yang telah lama tenggelam agar bangsa kita ini tidak hanya menjadi penonton dalam percaturan ekonomi nasional (memiliki daya saing). Membangun lapangan pekerjaan bagi ribuan pengangguran kita. Menaikkan gaji pegawai negeri, tentara serta polisi yang selama ini masih sangat kurang. Lagipula memberikan subsidi adalah pembodohan masyarakat yang membentuk masyarakat menjadi masyarakat yang malas dan memiliki ketergantungan yang tinggi. Dengan begitu akan berubah pola pikir masyarakat kita ini, karena masyarakat kita sekarang ini cenderung berpola konsumtif bukan produktif, selain itu jika harga BBM mahal, maka masyarakat akan lebih berhemat dalam gaya hidupnya. Strategi ini akan menurunkan demand akan BBM sendiri, disebabkan penghematan yang dilakukan masyarakat, sedangkan suplai kita tetap sehingga yang terjadi adalah harga BBM dalam negeri akan lebih murah karena berlaku hukum permintaan dan penawaran. Karena selama ini, yang menyebabkan kenaikan harga minyak dunia adalah angka permintaan yang tinggi tetapi stoknya menipis karena beberapa masalah yang menimpa beberapa negara OPEC sehingga harganyapun ikut melambung. Kemudian kita juga harus melakukan langkah radikal dalam bidang pertambangan kita ini, kalau saja Bolivia berani melakukan nasionalisasi pada seluruh perusahaan multinasional yang bercokol di negerinya, kenapa kita tidak dapat mencontohnya. Yang terakhir mungkin bangsa ini haruslah lebih PEDE atas potensi bangsanya sendiri. Dalam kasus blok Cepu adalah bukti yang sahih bahwa bangsa ini memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Jelas – jelas Pertamina sudah menyanggupi bahwa mereka siap menjadi operator tetapi pemerintah lebih setuju pada Exxon. Tidak berarti bahwa segala sesuatu yang bersifat ke – Barat – an itu lebih baik, lebih perfect. Dari rasa PEDE itulah bangsa ini perlahan tapi pasti akan menuju ke bangsa yang mandiri yang mana selama ini diidam – idamkan oleh para pendiri negara kita ini. Sudah teramat panjang perjalanan bangsa ini melintasi masa – masa kelam. Saatnya semua elemen menyatukan kekuatan untuk mendorong lokomotif pembangunan yang selama ini berhenti.

Beberapa permasalahan diatas adalah sebagian kecil potret pencapaian negatif bangsa ini dalam menyongsong 100 tahun Kebangkitan Nasional, bangsa yang sangat kerdil dan tidak mempunyai bargaining position di dunia internasional. Dan yang lebih parah lagi, kenaikan harga BBM lah yang dapat diberikan sebagai hadiah dalam menyambut 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Hadiah yang tentunya sangat amat mengejutkan dan menarik perhatian semua pihak. Happy Anniversary 100Th National Awakening, be glory always my beloved country .

*)Mahasiswa Hubungan Internasional ‘07

 

UNEK-UNEK June 8, 2008

Filed under: Creativity — komfis @ 10:11 am

UNEK-UNEK

Oleh : Dida S. T *)

Komisariat Fisipol Universitas Jember, adalah salah satu komisariat terdinamis di Jember, paling tidak itu yang sering dikatakan pengurus selama berdiskusi dengan saya. Tetapi apa benar situasi dinamis masih ada di komisariat pimpinan Azhari Evendy ini? Hem….kalau dilihat dari sisi anggota, memang anggota komfis lebih banyak banyak jumlahnya dibanding komisariat lain yang ada di cabang Jember. Tetapi kenapa yang sering ada di Komisariat cuma orang-orang itu saja? Kemana anggota yang katanya lulus Latihan Kader I tersebut. Kajian rutin diadakan, tapi tetap saja hanya orang-orang yang sama. Ada apa sih sebenarnya? Apa ada yang salah dalam proses kaderisasi, apa tidak adanya program menarik dari pengurus, ataukah jangan-jangan para anggota menyesal ikut HMI. Semoga saja tidak, semoga semuanya ingin menjadi bagian dari HMI karena ingin berproses, bukan karena paksaan. Bulan budaya yang baru berakhir, nampaknya juga belum mampu mendatangkan animo anggota (seperti menonton pertandingan bola saja), sekali lagi partisipannya tetap itu-itu saja. Semoga saja semua bisa membawa maju HMI Komfis pada khususnya, meskipun tanpa kehadiran di Komisariat Bangka VII tentunya, semoga saja…..

Lalu ada kalanya ketika saya datang ke Komisariat, suasananya sunyi….Oh ternyata penghuninya sedang survey ke luar kota. Seperti kopi tanpa gula, kadang kalau mayoritas pengurus melakukan survey jadi kangen berdiskusi dengan mereka, para pengurus itu sangat intelektual, kadang bisa jadi motivasi, lagi pula ada anggapan yang muda belajar dari yang tua (senior maksudnya). Anggapan itu, bagi saya ada benarnya, pengalaman senior bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi yang muda untuk bertindak.

Wah sepertinya komfis memang dinamis. Komfis penuh dengan akademik yang brilian.

Biar bagaimanapun, yang saya rasa sampai saat ini saya merasa bangga menjadi anggota HMI, saya sudah terlanjur cinta dengan organisasi kaum intelektual ini. Karena di HMI saya mampu berproses dan belajar memiliki social responsibility. Salam YAKUZA

*) Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional ‘07